Ragam Cara Optimalkan Pohon Gaharu

Ragam Cara Optimalkan Hasil Gaharu

cari kayu gaharuDi mana pun, pakem dalam berinvestasi selalu dengan modal yang kecil dapat diraih laba (untung atau hasil) yang besar atau malah sebesar-besarnya. Pakem dasar ini berlaku pula saat kita memutuskan berinvestasi dengan pohon gaharu. Terlebih dibandingkan dengan pohon-pohon yang biasa berkomoditas untuk investasi juga seperti pohon jati, sengon dan jabon, gaharu memiliki nilai potensi ekonomi yang lebih banyak.

Pasalnya setiap bagian dari gaharu bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi meskipun berbeda dalam hal nilai jualnya. Abu gaharu, damar (getah atau resin) gaharu, gubal gaharu dan kemendangan (kayu) gaharu, semuanya itu bisa dimanfaatkan untuk bermacam keperluan, mulai dari industri wewangian (parfum, pewangi ruangan, dan lain-lain), piranti keagamaan, bahkan hingga obat untuk penyakit tertentu. Optimalnya penggunaan dan pemanfaatan setiap bagian gaharu ini menjadikan pohon yang  kerap disamakan dengan cendana (sesungguhnya berbeda sekali !) tergolong sebagai pohon yang berkonsep “zero waste”.

Tidak terlepas dari itu, tentunya perlu teknik supaya bisa mendapatkan hasil yang optimal dari setiap bagian gaharu yang bernilai ekonomi tadi. Kita harus mengenali teknik pem budidaya gaharu. Dimulai dari bibitnya yang juga tak boleh sembarang atau asal saja dalam menyemai dan menanamnya. Arpan, seorang pembudidaya gaharu asal Lombok, NTB  dan peraih hadiah Kalpataru tahun 2002, mencontohkan . ”Dalam persemaian, gaharu perlu perlakuan khusus, seperti cara menyiramnya. Sedikit saja batang anakan goyang atau tanah di sekitar anakan hanyut tersiram air, gaharu tak bisa tumbuh, mati,” ujarnya.

Sedangkan mengenai teknik pembudidayaan pasca bibit yang disemai tumbuh dan berusia di atas beberapa tahun, diperlukan penyuntikkan enzim supaya getah yang dihasilkan gaharu berjumlah banyak. Pengalaman Miran, warga Desa Langkang, Kecamatan Pulau Laut Timur yang sekaligus pembudidaya gaharu, saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Setiap pohon diperlukan satu ampul dengan harga Rp. 300 ribu.

Ada lagi cara yang dikembangkan oleh  Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan pada Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan di Bogor, Jawa Barat. Mereka mengembangkan rekayasa produksi gaharu buatan melalui riset. Lalu bagaimana teknik pembudidayaan gaharu yang dikembangkan oleh dan sebagai riset dari Balitbang Kehutanan ini ?

Teknik budidaya gaharu dengan cara penginfeksian jamur pembentuk gaharu ke dalam batang pohon potensial. Isolat jamur penginfeksi atau pembentuk gaharu sudah dieksplorasi Balitbang Kehutanan dengan hasil diperoleh dari genus Fusarium dan Cylindrocarpon. Saat ini diperoleh dari genus Fusarium sebanyak 23 isolat jamur. Empat isolat jamur Fusarium paling cepat menginfeksi kayu berpotensi menjadi gaharu. ”Dalam satu bulan kayu yang diinfeksi dengan keempat isolat jamur tersebut sudah mampu menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya,” kata Sulistyo, Kepala Puslitbang Konservasi Alam Kementerian Kehutanan RI.

Kemudian gaharu buatan itu bisa dipetik pada usia satu hingga tiga tahun. Pohon potensial yang dipilih untuk membentuk gaharu, yang sudah berdiameter lebih dari 15 sentimeter dan usianya di atas 5-6 tahun. Untuk menyuntikkan isolat jamur penginfeksi, sebelumnya pohon potensial dilukai. Pada bagian pelukaan tersebut, isolat jamur disuntikkan. ”Dalam satu pohon disuntikkan isolat jamur pada 200 sampai 300 titik pelukaan batang,” kata Sulistyo. Dalam pelukaan kemudian terjadi infeksi jamur yang membentuk warna kehitam-hitaman. Selama tiga tahun, semburat warna kehitaman itu akan menyebar ke atas dalam jarak hanya 3-4 sentimeter saja. Semburat warna kehitam-hitaman pada serat kayu itulah yang disebut gaharu.
Bagi anda yang lagi cari kayu gaharu, bibit gaharu atau getah gaharu bisa menghubungi kami di nomor disamping kanan website ini. Salam sukses untuk warga Indonesia.

Mengenali Lebih Dulu Berkebun Gaharu

beli kayu gaharuArtikel sebelumnya Mengenali Gaharu Sebelum Budidaya Gaharu – Penasaran dengan tulisan sebelumnya yang menyinggung mengenai diperlukannya proses berurutan dan melalui proses berutan tadi akan diperoleh tiga hasil atau bagian gaharu yang bernilai : abu gaharu, gubal gaharu dan kemendangan gaharu ? Mengutip website Departemen Kehutanan RI (sekarang Kementerian Kehutanan RI) beginilah caranya supaya bisa mendapatkan ketiga hasil tersebut; a) Gubal gaharu dan kemedangan diperoleh dengan cara menebang pohon penghasil gaharu yang telah mati, sebagai akibat terjadinya akumulasi damar wangi yang disebabkan oleh infeksi pada pohon tersebut.

Kemudian, b) Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu. Nantinya, potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.

Selanjutnya, c) Potongan-potongan tanaman gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.  Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.

Dan d) Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.  Nah jadi melalui pemaparan ini, kita jadi bisa memahami mengapa tadi disebutkan untuk mendapatkan gubal gaharu, abu gaharu dan kemendangan gaharu harus memalui suatu proses yang berurutan. Proses berurutan ini dikenal pula sebagai konsep “zero waste” karena setiap hasil dari proses tersebut (gubal,abu dan kemendangan) seluruhnya bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi (meskipun nilainya berbeda-beda).

Apakah cukup sampai disini untuk mengenal dan mengetahui potensi ketiga bagian dari gaharu tadi ? Ternyata selain pengelompokkan berdasarkan mutu yang dalam tulisan sebelumnya telah dipaparkan, masih ada lagi lho. Tepatnya persyaratan bagaimana suatu bagian dari gaharu tadi termasuk ke dalam kelompok-kelompok mutu tersebut.

Adapun persyaratan umum baik gubalgaharu  atau kemendangan gaharu tergolong baik ialah tidak diperkenankan memiliki cacat-cacat lapuk dan busuk. Sedangkan secara khusus bisa diukur berdasarkan karakteristiknya yang menitikberatkan pada poin-poin semacam a) untuk gubal gaharu : bentuk, ukuran (panjang, lebar dan tinggi), warna, kandungan damar wangi, serat, bobot dan aroma (pada saat dibakar). Lalu b) untuk kemendangan gaharu : warna, kandungan damar wangi, serat, bobot dan aroma (pada saat dibakar) serta c) untuk abu gaharu : warna, kadungan damar wangi dan aroma (pada saat dibakar).

Meskipun cukup banyak karakteristik yang diperlukan untuk mengetahui kualitas mutu dari gubal, kemendangan dan abu gaharu, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa rata-rata gubal, kemendangan dan abu gaharu yang masuk dalam kualitas mutu utama (dilambangkan dengan U) ialah berwarna hitam atau coklat kehitaman, memiliki kandungan damar wangi yang tinggi atau agak tinggi, mengandung serat yang padat atau agak padat, berbobot berat atau agak berat dan aroma dari ketiga jenis bagian gaharu ini pada saat dibakar adalah kuat.

Bagi yang mencari bibit kayu gaharu silakan kontak kami di samping kanan website ini